Selasa, 11 Februari 2020

tugas 4


Di ujung senja

      Aku melangkahkan kaki ku menuju ruang yang sunyi itu,suasana tampak sangat terasa pedih di hati.Di sudut ruangan duduk seorang laki-laki diam menatap langit sore di balik kaca jendela.Aku memegang bahunya dan berkata ”are you oke?” tapi matanya berbinar dan berkaca-kaca tampak sudah tak kuasa menahan tangis nya.Lalu dia berkata “Apa aku akan tetap seperti ini?selamanya?”.


     Aku terdiam sejenak sembari mengusap air matanya yang mulai menetes sejak tadi,dan aku berkata “Tidak,semuanya akan baik-baik saja kami disini untuk mu”.Aku selalu berusaha untuk menghiburnya setiap hari,memberinya semangat dan selalu menemaninya.Kami sudah sangat lama bersama,ya dia adalah kekasih ku yang mengidap penyakit langka.Kami selalu menghabiskan waktu bersama di ruang ini hanya untuk menenangkan nya.

    Setiap hari dia akan selalu bertanya padaku “Apa kamu tidak lelah menemaniku sepanjang hari?” “Tentu saja tidak" jawab ku.Dia selalu merasa bahwa aku sudah di repotkan oleh nya.Dia selalu menceritakan semua yang dia alami,rasa sakit bahkan sampai mengeluh karna dia bilang dia bosan berada di ruangan seperti ini setiap hari.Aku sangat sedih melihat kondisinya kini,wajah cerianya yang dulu sering membuat orang-orang tertawa kini seakan sirna.

   Rasa sakit yang ia alami selama ini membuat semua orang yang selalu berada di sisinya sangat terpukul,ia selalu mengeluh jika saat nya untuk meminum obat.Tapi dia anak yang tegar selalu merasa tidak enakan jika harus terus merepotkan orang lain.1 tahun dia mengalami ini dan aku selalu bersamanya dan tetap menemani nya sejak pertama kali dia sakit bahkan sejak pertama kali kami saling mengenal.


    Kami sangat bahagia jika sedang bersama dia tak pernah ingin menunjukan rasa sakitnya padaku,dia selalu ingin terlihat sebagai laki-laki yang kuat.Walau terkadang memang sangat manja pada ibunya dan juga padaku.Saat aku tau dia sakit,aku sangat merasa terpukul apalagi ibunya yang tak kuasa membendung air matanya  di hadapanku.Beliau selalu berpesan agar aku selalu menemani dan merawat putranya dengan penuh kasih sayang.

    Hari-hari kami lalui bersama,dan setiap aku akan menemuinya dia selalu berada di kursi rodanya diam di sudut ruangan hanya untuk melihat langit sore di balik jendela,dia sangat mengagumi itu menurutnya senja adalah ciptaan tuhan yang sangat indah.Kami sangat saling menyayangi satu sama lain  apalagi kami sudah sangat lama bersama.Pada pagi hari dia selalu mengirimkan pesan untuk ku agar aku semangat bekerja dan selalu mencoba mengatasi rasa lelah ku.

   Hari demi hari waktu demi waktu kulihat dia semakin lemah,sangat tak berdaya dia akan berbaring di tempat tidur dan duduk di sudut ruangan setiap sore nya.Dia selalu berkata ingin bersamaku selamanya.Dan tentu saja aku meng-Iyakan perkataannya,kami sangat bahagia meski harus melewati masa-masa seperti ini.Dia tampak lebih murung kali ini.Kami selalu mengkhawatirkan keadaannya yang semakin lama semakin memburuk.

   Sampai suatu ketika dia tak mengirimkan pesan semangat nya lagi untukku,aku sangat gelisah hari itu.Sepulang kerja aku langsung pergi kerumah sakit tanpa mengganti pakaian ku terlebih dahulu seperti biasanya.Aku sangat kaget kenapa banyak sekali orang di depan ruangan itu,mereka menangis,sampai akhirnya ibunya memberi tahuku bahwa kekasihku telah tiada.Aku sangat hancur dan terpukul,dan semenjak saat itu senja adalah hal paling menyakitkan untuk ku.





Rabu, 15 Januari 2020

TUGAS 3

MALIN KUNDANG


Gambar 1
Pada zaman dahulu di sebuah perkampungan nelayan Pantai Air Manis di daerah Padang, Sumatera Barat hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang. Mande Rubayah amat menyayangi dan memanjakan Malin Kundang. Malin adalah seorang anak yang rajin dan penurut.


Gambar 2


Mande Rubayah sudah tua, ia hanya mampu bekerja sebagai penjual kue untuk mencupi kebutuhan ia dan anak tunggalnya. Suatu hari, Malin jatuh-sakit. Sakit yang amat keras, nyawanya hampir melayang namun akhirnya ia dapat diseiamatkan-berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya ia semakin disayang. Mereka adalah ibu dan anak yang saling menyayangi. Kini, Malin sudah dewasa ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau ke kota, karena saat itu sedang ada kapal besar merapat di Pantai Air Manis.



Gambar 3
“Jangan Malin, ibu takut terjadi sesuatu denganmu di tanah rantau sana. Menetaplah saja di sini, temani ibu,” ucap ibunya sedih setelah mendengar keinginan Malin yang ingin merantau.
“Ibu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganku,” kata Malin sambil menggenggam tangan ibunya. “Ini kesempatan Bu, kerena belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Aku ingin mengubah nasib kita Bu, izinkanlah” pinta Malin memohon.
“Baiklah, ibu izinkan. Cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu Nak,” kata ibunya sambil menangis. Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi. Kemudian Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus, “Untuk bekalmu di perjalanan,” katanya sambil menyerahkannya pada Malin. Setelah itu berangkatiah Malin Kundang ke tanah rantau meninggalkan ibunya sendirian